Index Post Liga Italia Liga Inggris
Kembali

Han Willhoft-King: Nyaris Bela Indonesia, Kini Gantung Sepatu Dini

Admin 18 Nov 2025

Han Willhoft-King: Nyaris Bela Indonesia, Kini Gantung Sepatu Dini

Kisah Gabriel Han Willhoft-King, yang pernah nyaris memperkuat tim nasional Indonesia, kini menarik perhatian setelah memutuskan untuk pensiun dini dari dunia sepak bola di usia 19 tahun demi mengejar pendidikan di Universitas Oxford. Lahir pada 24 Januari 2006 di London, Han Willhoft-King memiliki darah Indonesia dari sang ayah yang berdarah British-India dan pernah tumbuh besar di Jakarta.

Pada Juli 2023, namanya sempat menjadi perbincangan hangat di kalangan pecinta sepak bola Indonesia. Pelatih timnas U-17 Indonesia kala itu, Bima Sakti, mempertimbangkan Willhoft-King untuk masuk skuad yang akan berlaga di Piala Dunia U-17 2023. Bahkan, komunikasi dengan orang tua Willhoft-King pun sempat terjalin. Namun, harapan itu kandas setelah выяснилось bahwa Willhoft-King belum memiliki paspor Indonesia, dan proses naturalisasinya akan memakan waktu terlalu lama sehingga tidak memungkinkan untuk turnamen tersebut.

Sebelum keputusan mengejutkan untuk pensiun, Willhoft-King memiliki karier sepak bola yang menjanjikan. Ia bergabung dengan akademi Tottenham Hotspur pada usia enam tahun dan dianggap sebagai salah satu talenta terbaik di kelompok usianya. Bahkan, surat kabar Inggris The Guardian pada September 2022 menobatkannya sebagai pemain terbaik di kelompok umurnya di klub tersebut. Ia juga sempat mencicipi latihan tim utama Tottenham di bawah asuhan Antonio Conte. Willhoft-King menolak tawaran kontrak dari Tottenham pada akhir musim 2023-2024 dan kemudian bergabung dengan tim U-21 Manchester City pada musim panas 2024. Di level internasional, ia tercatat dua kali memperkuat timnas Inggris U-16 pada tahun 2021.

Keputusan Willhoft-King untuk meninggalkan sepak bola profesional di usia muda terjadi pada tahun 2025, setelah sebelumnya bermain untuk Manchester City U-21. Ia kini terdaftar sebagai mahasiswa hukum di Brasenose College, Universitas Oxford. Beberapa alasan di balik keputusannya itu adalah perasaan "kurang terstimulasi" dan "sering bosan" dengan gaya hidup pesepak bola profesional, serta masalah cedera berulang yang kerap menghambat progresnya. Ia mengungkapkan bahwa dirinya merasa bisa melakukan lebih banyak hal dan membutuhkan tantangan intelektual yang lebih besar, serta mencari jalur karier jangka panjang di luar lapangan hijau.