Index Post Liga Italia Liga Inggris
Kembali

Badai Tuduhan Usai Sebuah Kekeliruan

Admin 26 Nov 2025

Badai Tuduhan Usai Sebuah Kekeliruan

Mohamed Salah, yang dulunya adalah pahlawan pujaan Anfield, kini menjadi sorotan tajam dan sasaran kritik pedas di tengah performa Liverpool yang sedang goyah pada musim 2025/2026. Penyerang sayap asal Mesir ini dituding sebagai "masalah" alih-alih solusi bagi The Reds, sebuah narasi yang sangat kontras dengan statusnya sebagai pencetak gol ulung di musim-musim sebelumnya.

Penurunan performa Salah musim ini sangat mencolok. Dalam 11 hingga 12 pertandingan awal Liga Inggris 2025/2026, ia hanya mampu membukukan 4 gol dan 2 assist. Angka ini jauh tertinggal dari 8 gol dan 6 assist yang dicatatkannya pada periode yang sama di musim sebelumnya (2024/2025). Secara keseluruhan, keterlibatan golnya (gol + assist) menurun drastis dari 14 menjadi hanya 6 di awal musim ini.

Puncak kritik terhadap Salah terjadi setelah serangkaian hasil buruk Liverpool. Kekalahan 0-3 dari Manchester City dan kekalahan 1-2 dari Manchester United menjadi sorotan. Dalam laga melawan Manchester United, Salah menunjukkan permainan yang "lesu" dan melewatkan peluang emas satu lawan satu, yang kemudian berujung pada penarikannya dari lapangan. Media Inggris seperti BBC bahkan melabelinya sebagai pemain yang "tidak mampu menyelamatkan Liverpool".

Bukan hanya media Inggris, media Jerman, khususnya Bild, juga menyoroti Salah. Mereka menyebutnya sebagai "masalah besar" bagi Liverpool dan pemain baru Florian Wirtz, mengklaim bahwa "kekeras kepalaan" Salah telah menjadi bahan pembicaraan di ruang ganti dan ia sering mengabaikan para pemain baru yang didatangkan dengan biaya besar.

Legenda Liverpool, Jamie Carragher, secara terang-terangan mempertanyakan status Salah sebagai starter yang tak tergantikan, menyarankan bahwa ia sebaiknya tidak selalu bermain, terutama di laga tandang. Carragher juga mengkritik "sikap tak acuh" Salah di tengah keterpurukan tim. Senada, legenda klub lainnya, Emile Heskey, berpendapat bahwa jika Salah tidak mencetak gol, rasanya seperti bermain dengan sepuluh pemain.

Beberapa faktor disinyalir menjadi penyebab kemerosotan performa Salah. Kepergian Trent Alexander-Arnold ke Real Madrid disebut-sebut sebagai salah satu alasan utama. Alexander-Arnold, yang dikenal dengan umpan-umpan akuratnya, memiliki chemistry yang kuat dengan Salah, dan kepergiannya mengurangi suplai bola untuk Salah hingga 30%. Pemain pengganti seperti Conor Bradley dan Milos Kerkez belum mampu mengisi kekosongan tersebut.

Adaptasi dengan manajer baru, Arne Slot, juga menjadi tantangan. Meskipun Slot memberikan kebebasan taktis kepada Salah untuk fokus menyerang, pemain berusia 33 tahun itu, yang lahir pada Juni 1992, tampak kesulitan menemukan perannya dalam sistem baru. Beberapa pihak bahkan menilai penurunan ini merupakan bagian dari "senja karier" bagi sang bintang Mesir.

Kritik memuncak setelah Liverpool mengalahkan Eintracht Frankfurt 5-1 di Liga Champions. Salah, yang dicadangkan dalam pertandingan itu, gagal memberikan kontribusi setelah masuk sebagai pemain pengganti dan dikritik karena tidak mengoper bola ke Florian Wirtz yang berada dalam posisi lebih baik. Pasca pertandingan tersebut, Salah dilaporkan menghapus atribut "Liverpool" dari profil media sosial X dan Instagram-nya, sebuah tindakan yang memicu spekulasi bahwa ia "ngambek" atau tidak senang dengan situasi yang ada.

Meskipun Salah baru saja memperpanjang kontraknya hingga tahun 2027 pada April 2025, masa depannya di Anfield mulai menjadi spekulasi. Eks kiper Liverpool, David James, bahkan menyatakan bahwa klub mungkin akan mempertimbangkan untuk menjualnya jika performanya tidak kunjung membaik, terutama dengan hadirnya pemain-pemain menyerang baru seperti Wirtz, Ekitike, dan Isak yang menambah persaingan di lini depan. Liverpool saat ini berada dalam krisis, tertinggal 11 poin dari Arsenal di klasemen Liga Inggris setelah serangkaian kekalahan, termasuk kekalahan terbesar mereka di Anfield dalam sejarah Premier League dari Nottingham Forest. Situasi ini semakin menambah tekanan bagi Mohamed Salah, yang kini harus berjuang keras untuk membuktikan bahwa ia masih bisa menjadi jawaban bagi Liverpool, bukan lagi menjadi pihak yang "disalah-salahin".