Fenomena Liverpool Terpuruk Pasca-Juara: Manajer Spurs Ungkap Kompleksitas Dinamika Sepak Bola

Liverpool menikmati puncak kejayaan pada musim 2019-2020, mengakhiri penantian 30 tahun untuk gelar liga utama dan menjuarai Premier League dengan rekor keunggulan 18 poin atas lawan-lawannya. Tim asuhan Jürgen Klopp itu tampil dominan, mencatatkan berbagai rekor, termasuk 24 kemenangan kandang berturut-turut di liga dan memimpin klasemen selama 37 pekan dari 38 pertandingan. Namun, euforia tersebut tak bertahan lama.
Musim berikutnya, 2020-2021, The Reds mengalami kemerosotan performa yang drastis, sebuah periode yang sering disebut sebagai "jeblok habis juara". Mereka menderita enam kekalahan kandang berturut-turut di Anfield untuk pertama kalinya dalam sejarah klub, yang memupuskan harapan untuk mempertahankan gelar Premier League. Pada awal Maret 2021, Liverpool terperosok ke posisi kedelapan di tabel liga. Krisis cedera bek tengah, dengan Virgil van Dijk, Joe Gomez, dan Joel Matip absen dalam jangka panjang, menjadi salah satu faktor utama yang melumpuhkan lini pertahanan mereka. Selain itu, pertandingan yang dimainkan tanpa penonton akibat pandemi COVID-19 juga disebut-sebut menghilangkan keunggulan atmosfer Anfield yang selama ini menjadi kekuatan Liverpool. Meski demikian, Liverpool berhasil bangkit secara luar biasa di akhir musim, memenangkan delapan dari sepuluh pertandingan liga terakhir mereka, termasuk gol kemenangan di menit akhir dari kiper Alisson Becker, untuk mengamankan posisi ketiga dan tiket ke Liga Champions musim berikutnya.
Melihat kompleksitas dinamika sepak bola seperti yang dialami Liverpool, mantan manajer Tottenham Hotspur, Jose Mourinho, pernah menyampaikan pandangannya. Mourinho, yang menukangi Spurs dari November 2019 hingga April 2021, periode yang tumpang tindih dengan masa kejayaan dan kemerosotan Liverpool, sering menyoroti sifat permainan yang tak terduga. Ia pernah menyatakan, "kesalahan bisa datang karena kurangnya kualitas, atau mungkin kesalahan adalah konsekuensi dari ketidakpastian pekerjaan kita, dari kredit yang harus Anda berikan kepada orang lain". Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa di balik setiap performa, baik gemilang maupun terpuruk, selalu ada lapisan-lapisan faktor yang membuat sepak bola menjadi arena yang sangat kompleks dan sulit diprediksi, bahkan bagi tim yang sebelumnya sangat dominan. Naik turunnya performa Liverpool setelah memenangkan gelar adalah bukti nyata betapa cepatnya roda nasib dapat berputar dalam olahraga ini.