Man City Tanpa Haaland: Ujian Daya Gedor Sang Juara

Manchester City saat ini dihadapkan pada pertanyaan krusial di dunia sepak bola: apakah "tanpa Haaland, tak ada pesta"? Perdebatan mengenai ketergantungan The Citizens terhadap penyerang asal Norwegia, Erling Haaland, semakin memanas, terutama dengan melihat performa tim dalam beberapa waktu terakhir.
Sejak kedatangannya pada tahun 2022, Erling Haaland telah memecahkan berbagai rekor gol dan menjadi kekuatan pendorong di lini serang Manchester City. Pada musim debutnya (2022-2023), ia mencetak 36 gol di Premier League dan 52 gol di semua kompetisi, membantu City meraih treble dan mengumpulkan banyak penghargaan individu. Kehadirannya tidak hanya sebatas gol; pergerakan cerdas dan fisiknya juga menciptakan ruang serta peluang bagi rekan setimnya. Manajer Pep Guardiola bahkan menyebutnya sebagai "pemain kunci".
Namun, data terbaru menunjukkan bahwa ketergantungan pada Haaland mungkin menjadi pedang bermata dua. Pada musim 2024-2025, Manchester City mengalami penurunan signifikan dalam perolehan trofi, gagal meraih gelar domestik utama untuk pertama kalinya sejak musim 2016-2017. Mereka finis ketiga di Premier League, menjadi runner-up di Piala FA, dan tersingkir lebih awal dari Piala Liga Inggris serta Liga Champions. Periode buruk tersebut mencakup hanya satu kemenangan dalam tiga belas pertandingan dengan sembilan kekalahan.
Statistik di Premier League musim 2024-2025 menunjukkan bahwa tanpa Erling Haaland, Manchester City mencatatkan 5 kemenangan, 1 hasil imbang, dan 1 kekalahan dengan selisih gol 7. Sementara itu, musim 2025-2026 ini, City memenangkan 58,3% pertandingan Premier League ketika Haaland bermain. Haaland sendiri telah mencetak 14 gol dalam 11 penampilan Premier League dan 5 gol dalam 4 penampilan Liga Champions musim ini, menjadikan total 19 gol dalam 15 pertandingan.
Analisis yang lebih mendalam dari 17 pertandingan di Premier League dan Liga Champions musim 2025-2026 menunjukkan bahwa 10 kemenangan dan 2 hasil imbang City semuanya terjadi pada pertandingan di mana Haaland mencetak gol. Sebaliknya, dari lima kekalahan mereka, Haaland hanya mencetak gol di satu pertandingan. Pola ini dengan jelas menyiratkan bahwa ketika Haaland tidak mencetak gol, City kesulitan menemukan jalan menuju kemenangan, memperkuat narasi "tanpa Haaland, tak ada pesta". Bahkan, beberapa analisis menunjukkan bahwa jika gol-gol Haaland dihilangkan, posisi City di liga akan jauh lebih rendah, bahkan hingga peringkat ke-12 dengan 12 poin dan selisih gol -1, menyoroti ketergantungan yang tidak sehat.
Pep Guardiola menyadari situasi ini. Ia mengakui Haaland sebagai "pemain kunci" tetapi menekankan perlunya pemain lain untuk meningkatkan kontribusi gol mereka. Guardiola menyatakan bahwa kurangnya pencetak gol selain Haaland "bukanlah kekhawatiran utama", namun ia membutuhkan lebih banyak pemain yang mencetak gol. Meskipun demikian, beberapa pengamat, seperti Rafael van der Vaart, mengkritik kemampuan teknis Haaland saat City kesulitan, bahkan menyebutnya "pemain biasa" tanpa kecepatannya. Di sisi lain, ada juga yang menyandingkan capaian golnya dengan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.
Pada Maret 2025, Haaland sempat absen karena cedera pergelangan kaki yang dideritanya di perempat final Piala FA, dengan perkiraan pemulihan 5-7 minggu. Ia kembali sebagai pemain cadangan yang tidak digunakan pada Mei 2025. Absensi ini turut berkontribusi pada musim 2024-2025 City yang "tanpa trofi".
Meskipun Erling Haaland terus berevolusi menjadi striker yang lebih lengkap, berkontribusi dalam membangun permainan dan menciptakan ruang dengan pergerakan tanpa bola, data dan hasil pertandingan saat ini secara tegas menggarisbawahi pentingnya gol-golnya. Pertanyaannya bukanlah apakah Manchester City bisa memenangkan pertandingan tanpa Haaland mencetak gol, melainkan apakah mereka bisa konsisten meraih kemenangan besar dan trofi tanpa kontribusi golnya yang masif. Saat ini, jawabannya condong pada pandangan bahwa keberhasilan Manchester City sangat terikat dengan penampilan gemilang sang bomber Norwegia.