Xabi Alonso: Terjebak dalam Pilihan Berat

Real Madrid, 23 Desember 2025 – Ekspektasi yang melambung tinggi dan tekanan tak henti-hentinya kini membayangi Xabi Alonso di Real Madrid, hanya tujuh bulan setelah ia mengambil alih kursi pelatih kepala dari Carlo Ancelotti pada 1 Juni 2025. Perjalanan transformatifnya bersama Bayer Leverkusen, yang berpuncak pada gelar Bundesliga tak terkalahkan pada musim 2023-2024, kini menjadi standar perbandingan yang membebani, menimbulkan pertanyaan tentang kemampuannya menavigasi kompleksitas manajemen klub raksasa seperti Los Blancos di tengah musim 2025-2026 yang penuh tantangan.
Keputusan Alonso untuk meninggalkan Leverkusen pada Mei 2025, mengakhiri kontraknya yang seharusnya berjalan hingga musim panas 2026, untuk bergabung dengan Real Madrid adalah sebuah langkah yang diantisipasi namun juga sarat risiko. Di Leverkusen, ia dielu-elukan sebagai "arsitek" yang mengubah "Neverkusen" menjadi tim yang tak terkalahkan, memenangkan Bundesliga, DFB-Pokal, dan Piala Super Jerman pada tahun 2024. CEO Bayer Leverkusen, Fernando Carro, bahkan mengakui bahwa Alonso "menemukan skuad yang sudah jadi di Bayer" dan mereka bekerja sama dalam mempersiapkan musim berikutnya. Ini kontras tajam dengan situasi di Madrid, di mana ia mewarisi skuad dengan ego tinggi dan harapan instan.
Musim 2025-2026 Alonso di Real Madrid dimulai dengan baik, mencatat 13 kemenangan dari 14 pertandingan awal dan meraih kemenangan penting atas Barcelona. Namun, tim mengalami penurunan performa signifikan pada November dan Desember, kehilangan poin dalam empat dari tujuh pertandingan, yang membuat rival mereka unggul empat poin di liga. Real Madrid juga menelan kekalahan di Liga Champions dari Liverpool dan Manchester City, menambah tekanan pada Alonso. Pada saat ini, Real Madrid berada di posisi kedua klasemen Bundesliga 2025-2026, terpaut empat poin dari pemuncak klasemen. Di Liga Champions 2025-2026, Real Madrid juga menghadapi tantangan, termasuk kekalahan dari Liverpool dengan skor 1-0.
Beban ini tercermin dari pernyataan Carro, yang baru-baru ini menyatakan keprihatinannya atas kritik yang diterima Alonso di Real Madrid. "Saya ingin dia memenangkan lebih banyak pertandingan dari yang sudah dia lakukan. Saya tidak ingin dia mengalami kesulitan. Saya tidak menyukai kritik yang dia terima," ujar Carro, menyoroti ikatan personal dan pemahaman akan tekanan yang dihadapi mantan pelatihnya. Pundit Spanyol juga mengklaim bahwa Alonso belum sepenuhnya mendapatkan kepercayaan dari Presiden Florentino Perez dan jajaran direksi Los Blancos, meskipun tiga kemenangan beruntun sebelum jeda Natal sedikit meredakan tekanan.
Salah satu tantangan Alonso di Real Madrid adalah mengelola pemain-pemain bintang. Mantan pemain Leverkusen, Granit Xhaka, dalam sebuah dokumenter tentang Alonso, menyatakan bahwa Alonso "tidak peduli dengan nama besar" dan hanya fokus pada performa di lapangan. Namun, filosofi ini tampaknya menghadapi resistensi di ruang ganti Real Madrid yang dipenuhi ego. Analisis taktis menunjukkan bahwa Real Madrid di bawah Alonso masih kesulitan menghadapi blok pertahanan dalam dan seringkali terlalu bergantung pada kecemerlangan individu seperti Kylian Mbappé dan Vinícius Júnior. Kekalahan telak 5-2 dari Atletico Madrid di La Liga 2025-2026 menunjukkan ketidakmampuan timnya untuk menghasilkan pola serangan yang konsisten atau beradaptasi dengan struktur defensif lawan yang kuat.
Masa depan Alonso di Real Madrid kini dikaitkan erat dengan hasil di Piala Super Spanyol yang akan datang, di mana mereka akan menghadapi rival Atletico Madrid di semifinal. Jika mereka berhasil mengalahkan Atletico, mereka akan menghadapi Barcelona atau Athletic Club di final. Kebutuhan untuk mengamankan trofi dan menunjukkan performa meyakinkan sangat krusial untuk menjaga posisinya.
Dalam konteks yang lebih luas, situasi Alonso mencerminkan tantangan inheren bagi setiap pelatih yang mengambil alih klub dengan sejarah dan ekspektasi sebesar Real Madrid. Kesuksesan luar biasa di klub yang lebih kecil seringkali tidak secara otomatis diterjemahkan ke panggung terbesar, di mana politik internal, manajemen ego pemain, dan tekanan media jauh lebih intens. Alonso sendiri pernah merenungkan tantangan menjadi pelatih muda, bahkan mempertanyakan alasannya melatih Leverkusen setelah kekalahan telak 5-1 dari Frankfurt pada awal masa kepelatihannya di sana. Kini, di Real Madrid, pertanyaan serupa, meskipun dengan skala yang jauh lebih besar, mungkin kembali menghantuinya.