Index Post Liga Italia Liga Inggris
Kembali

Red Bull Tak Lagi Buru McLaren: Inikah Akhir Persaingan?

Admin 26 Nov 2025

Red Bull Tak Lagi Buru McLaren: Inikah Akhir Persaingan?

Spielberg, Austria – Red Bull Racing dikabarkan mulai menunjukkan tanda-tanda "menyerah" dalam perburuan gelar juara Formula 1 musim 2025, menyusul performa dominan McLaren dan hasil mengecewakan di Grand Prix Austria baru-baru ini. Penasihat motorsport Red Bull, Helmut Marko, secara blak-blakan menyatakan bahwa mengejar McLaren kini tampak seperti misi yang "nyaris mustahil", kecuali jika performa mobil mereka bisa bangkit di sisa musim ini.

Pernyataan Marko muncul setelah balapan di Red Bull Ring, kandang mereka sendiri, di mana tim berbendera Austria itu gagal meraih poin. Max Verstappen terpaksa mundur di lap pertama akibat senggolan dengan Kimi Antonelli, sementara Yuki Tsunoda finis di posisi buncit. Di sisi lain, Lando Norris dan Oscar Piastri dari McLaren berhasil finis 1-2, memperkukuh posisi tim asal Woking tersebut di klasemen konstruktor dan menjauh dari kejaran Verstappen di klasemen pembalap.

Saat ini, Oscar Piastri memimpin klasemen pembalap dengan 216 poin, diikuti oleh Lando Norris dengan 201 poin. Max Verstappen berada di posisi ketiga dengan 155 poin, tertinggal 61 poin dari Piastri dan 46 poin dari Norris. "Dengan selisih seperti ini dan kecuali kami berhasil mengejar ketertinggalan cukup cepat untuk menang berdasarkan prestasi (di trek), maksud saya, berapa banyak poin yang tertinggal dari Max sekarang?" ujar Marko kepada TV Austria, ORF, yang dikutip Crash. Ia menambahkan bahwa selisih waktu dan margin 60 poin, yang hampir setara dengan tiga kemenangan balapan, sangat sulit untuk dikejar.

Bos tim Red Bull, Christian Horner, sebelumnya juga telah mengakui keunggulan McLaren, menyebut mereka "di liga mereka sendiri" terutama dalam kondisi tertentu dan manajemen ban yang impresif. Horner bahkan menggambarkan kemampuan McLaren dalam menjaga ban sebagai "membuat cinta dengan pipa knalpot" lawan, yang menyoroti betapa efektifnya mereka mengikuti mobil lain tanpa degradasi ban yang signifikan.

Sepanjang musim 2025, mobil RB21 Red Bull telah menghadapi kesulitan performa dan konsistensi, termasuk masalah drivability, keausan ban belakang yang prematur, dan tantangan dalam menemukan jendela operasi yang optimal. Marko mengakui bahwa McLaren memiliki keunggulan sejak pengujian pramusim dan bahwa Red Bull masih berjuang dengan degradasi ban yang lebih cepat.

Meskipun menghadapi tantangan ini, Red Bull tidak sepenuhnya menyerah. Mereka memiliki beberapa pembaruan komponen mobil yang akan diperkenalkan untuk dua balapan berikutnya, yaitu Grand Prix Belgia dan Hongaria. Christian Horner menegaskan bahwa tim harus terus melakukan pengembangan, karena "jika Anda diam, Anda akan mundur." Tim teknis Red Bull telah berfokus pada peningkatan keseimbangan mobil, efisiensi aerodinamika (termasuk underbody dan diffuser), serta mengatasi masalah keausan ban. Mereka berharap dapat menutup celah performa dengan McLaren dalam "tiga hingga lima balapan" ke depan.

Namun, Red Bull juga dihadapkan pada dilema strategis dengan perubahan regulasi besar-besaran yang akan datang pada tahun 2026. Alokasi sumber daya antara pengembangan mobil 2025 dan mobil 2026 menjadi sangat krusial, terutama dengan adanya batasan anggaran (budget cap) di Formula 1. Helmut Marko mengonfirmasi bahwa keputusan untuk menghentikan pengembangan mobil RB21 2025 dan beralih sepenuhnya ke mobil 2026 kemungkinan besar akan diambil setelah Grand Prix Silverstone atau Spa Francorchamps.

Kekalahan di Grand Prix Austria, di mana McLaren tampil dominan dengan Piastri dan Norris mengunci posisi terdepan, semakin mempertegas tantangan yang dihadapi Red Bull. Dengan McLaren menunjukkan konsistensi dalam kecepatan balapan dan manajemen ban yang superior, perburuan gelar juara dunia Formula 1 musim 2025 tampaknya akan menjadi medan pertempuran yang berat bagi Red Bull, meskipun mereka bertekad untuk terus berjuang dengan pembaruan yang ada.