Lewandowski di Milan: Waspada Jalan Terjal Menanti!

Para pengamat sepak bola telah menyuarakan kekhawatiran signifikan terhadap potensi adaptasi Robert Lewandowski di Serie A, khususnya jika ia memilih bergabung dengan AC Milan, menyoroti tantangan taktis dan fisik yang mungkin dihadapinya di luar La Liga Spanyol. Peringatan ini muncul di tengah ketidakpastian seputar masa depan jangka panjang sang striker di Barcelona, meskipun ada sinyal kuat keinginannya untuk bertahan.
Lewandowski, yang akan berusia 37 tahun pada Agustus 2025, saat ini merupakan pemain dengan gaji tertinggi di Barcelona, menerima sekitar 400 ribu Euro per minggu atau €20,8 juta per tahun untuk musim 2025-2026. Kontraknya dengan Blaugrana akan berakhir pada Juni 2026. Meskipun laporan terbaru pada Desember 2025 menunjukkan bahwa Lewandowski bersedia memotong gajinya hingga separuhnya demi memperpanjang masa baktinya di Camp Nou, klub masih menahan diri untuk terburu-buru memperpanjang kontraknya, sembari mengevaluasi usia dan kondisi fisiknya. La Liga sendiri telah mengesahkan Pasal 103 dalam regulasi kontrol ekonomi yang memungkinkan klub memperpanjang kontrak pemain di atas salary cap, asalkan gaji pemain tidak melebihi 8 persen dari total batas biaya skuad, sebuah aturan yang berpotensi dimanfaatkan Barcelona untuk mempertahankan Lewandowski.
Secara performa, Lewandowski menunjukkan peningkatan di awal musim 2024-2025 di La Liga, mencetak tujuh gol dari tujuh pertandingan dan menjadi Man of the Match dalam kemenangan Barcelona atas Getafe pada September 2024. Hingga Januari 2025, ia telah mencetak 8 gol dalam 12 pertandingan di La Liga musim 2025/2026, setelah mengakhiri musim 2024/2025 dengan 45 gol dari 59 penampilan di semua kompetisi. Barcelona juga berhasil meraih gelar juara Liga Spanyol, Copa del Rey, dan Piala Super Spanyol pada musim 2024-2025 di bawah Hansi Flick, dengan Lewandowski menyatakan musim tersebut "nyaris sempurna". Namun, pada Januari 2025, Lewandowski sempat mencatat bahwa performa Barcelona di La Liga sedikit memudar, dengan hanya satu kemenangan dan empat kekalahan dalam tujuh pertandingan terakhir, menyoroti pentingnya mentalitas tim.
Di sisi lain, AC Milan mengalami musim 2024-2025 yang "bencana" di Serie A, finis di peringkat kesembilan dengan 51 poin dan gagal lolos ke kompetisi Eropa musim depan. Pada Maret 2025, mereka berada di papan tengah klasemen Liga Italia Serie A, di peringkat kesembilan. Setelah pemecatan Paulo Fonseca pada 29 Desember 2024, Massimiliano Allegri mengambil alih sebagai pelatih kepala pada Juni 2025. Allegri, yang dikenal dengan taktik pragmatisnya, dilaporkan menerapkan formasi 4-2-3-1 yang dapat bertransformasi menjadi 4-4-2 saat bertahan, dengan fokus pada pertahanan kuat dan serangan efisien, bahkan sempat menggunakan formasi 3-5-2. Pada awal musim 2025/2026, analisis taktis menunjukkan bahwa Milan masih beradaptasi dengan gaya baru Allegri, dengan transisi dari bertahan ke menyerang yang belum lancar.
Perpindahan ke Serie A akan membawa serangkaian tantangan yang berbeda bagi Lewandowski. Liga Italia secara historis dikenal dengan pendekatan taktis yang lebih defensif dan fisik dibandingkan La Liga yang cenderung lebih teknis dan terbuka. Transisi untuk striker veteran sering kali sulit, mengingat tuntutan fisik yang ketat dan ruang gerak yang lebih sempit di Serie A. Mantan pelatih timnas Italia, Roberto Mancini, bahkan pernah menyatakan pada tahun 2020 bahwa sangat disayangkan publik tidak pernah melihat Lewandowski bermain di Serie A, menyebutnya salah satu penyerang tengah terbaik di dunia.
Meskipun Lewandowski memiliki rekam jejak mencetak gol yang luar biasa, usianya yang mendekati 38 tahun pada pertengahan musim 2025/2026 akan menjadi faktor krusial. Sistem Allegri di Milan, yang mengandalkan fleksibilitas dan pertahanan solid, mungkin tidak sepenuhnya cocok dengan gaya bermain Lewandowski yang membutuhkan suplai bola konstan dan peran sebagai target man utama. Dengan Milan yang sedang dalam fase rekonstruksi dan mencari identitas baru di bawah Allegri, potensi adaptasi Lewandowski di lingkungan yang kompetitif dan secara taktis menuntut seperti Serie A, terutama setelah periode "bencana" Milan, menjadi sumber kekhawatiran serius bagi para pengamat.