5 Tim Ini Justru 'Sinterklas' Kekalahan di Boxing Day, Siapa Saja?

Setiap tahun, perayaan Boxing Day dalam kalender sepak bola Inggris seringkali menjadi panggung bagi drama tak terduga, di mana beberapa tim secara konsisten gagal memanfaatkan momentum liburan, justru "menghadiahi" kemenangan kepada lawan-lawan mereka. Fenomena ini telah menciptakan kategori unik bagi "tim Sinterklas" yang rekor buruknya pada tanggal 26 Desember menjadi sorotan, memicu analisis mendalam mengenai faktor di balik kemerosotan performa mereka pada periode krusial ini.
Boxing Day, sebuah tradisi yang sudah mengakar dalam sepak bola Inggris sejak tahun 1860, secara historis merupakan salah satu hari pertandingan yang paling dinanti, memberikan kesempatan bagi klub untuk membangun momentum menjelang paruh kedua musim. Namun, tidak semua tim menemukan semangat Natal di lapangan. Data statistik Premier League menunjukkan beberapa klub secara konsisten berjuang, mengubah perayaan menjadi kekalahan berulang.
Newcastle United memimpin daftar tim yang paling sering mengalami kekalahan pada Boxing Day di era Premier League. Klub berjuluk The Magpies ini mencatat 16 kekalahan dari 25 hingga 29 pertandingan Boxing Day Premier League, dengan rasio kekalahan mencapai 62% di antara klub-klub Premier League saat ini. Mereka juga kebobolan 45 gol dalam pertandingan-pertandingan tersebut. Selama dekade 2010-an, Newcastle hanya berhasil meraih dua kemenangan Boxing Day. Kekalahan telak seperti 4-0 dari Liverpool pada 2018 dan serangkaian kekalahan dari Manchester United (4-3 pada 2012, 3-1 pada 2014, dan 4-1 pada 2019) menyoroti kesulitan mereka dalam menghadapi jadwal padat ini.
Aston Villa menyusul dengan rekor yang tidak kalah memprihatinkan. Meskipun secara historis memiliki 46 kemenangan Boxing Day di semua kompetisi, menempatkan mereka di posisi kedua di belakang Manchester United, rekor mereka di era Premier League sangatlah buruk. Sejak Premier League dimulai pada musim 1992/93, Aston Villa hanya meraih lima kemenangan dari 26 pertandingan Boxing Day, menghasilkan persentase kemenangan yang menyedihkan sebesar 19%. Sebaliknya, mereka menderita 15 kekalahan, atau kalah 62% dari waktu. Selain itu, Aston Villa juga menjadi tim dengan kartu merah terbanyak pada Boxing Day di era Premier League, dengan total lima pengusiran pemain. Sebagai contoh, kekalahan 3-0 dari Newcastle United baru-baru ini memperpanjang rentetan kekalahan Boxing Day mereka menjadi empat kali berturut-turut.
Leicester City menunjukkan persentase kekalahan tertinggi di Premier League untuk tim yang telah memainkan sejumlah pertandingan. The Foxes mengalami 12 kekalahan dari 17 pertandingan Boxing Day di Premier League, menghasilkan tingkat kekalahan yang mencengangkan sebesar 71%. Secara keseluruhan, mereka mencatat 13 kekalahan pada Boxing Day di Premier League. Bahkan dalam musim juara mereka pada 2015-16, Leicester menelan kekalahan 1-0 dari Liverpool pada Boxing Day. Pada Boxing Day 2024, Leicester kembali tunduk 3-1 dari Liverpool.
West Ham United juga termasuk dalam daftar tim yang kerap kesulitan pada Boxing Day. Dengan tujuh kekalahan pada tanggal ini, mereka digambarkan memiliki "Boxing Day yang secara konsisten menyedihkan," hanya mengumpulkan rata-rata 1,1 hingga 1,2 poin per pertandingan. The Hammers belum pernah memenangkan pertandingan Boxing Day di luar London sejak 2015. Meskipun ada catatan kemenangan besar di masa lalu, inkonsistensi mereka dalam periode Natal ini seringkali merugikan.
Norwich City menampilkan salah satu rekor Boxing Day terburuk di Premier League, hanya mampu mengumpulkan satu poin dari delapan pertandingan Boxing Day yang mereka mainkan. Mereka tercatat menderita tujuh kekalahan pada Boxing Day. Rekor ini secara terang-terangan menempatkan mereka sebagai "tim Sinterklas" sejati, secara konsisten memberikan poin kepada lawan-lawan mereka di tengah periode perayaan.
Kesulitan yang dialami tim-tim ini pada Boxing Day seringkali dikaitkan dengan beberapa faktor. Kepadatan jadwal pertandingan di periode liburan dapat menguji kedalaman skuad dan stamina pemain. Manajer harus menghadapi tantangan rotasi pemain dan menjaga fokus tim di tengah gangguan perayaan. "Kekalahan dua atau tiga pertandingan berturut-turut bukanlah ide waktu yang baik bagi siapa pun," komentar juru bicara Lottoland Sportsbook, menyoroti dampak psikologis dari hasil buruk berturut-turut.
Implikasi jangka panjang dari rekor buruk Boxing Day dapat signifikan. Kehilangan poin pada periode ini dapat menghambat ambisi klub di liga, menurunkan moral penggemar, dan meningkatkan tekanan pada manajemen dan staf pelatih. Di tengah perubahan jadwal Premier League, dengan hanya satu pertandingan yang direncanakan pada Boxing Day 2025 karena ekspansi kompetisi Eropa, tradisi ini menghadapi adaptasi. Namun, tantangan bagi tim untuk tampil konsisten di tengah periode liburan tetap relevan, dengan "tim Sinterklas" ini menjadi pengingat abadi bahwa semangat Natal tidak selalu menjamin hasil yang cerah di lapangan hijau.