Ancelotti Blak-blakan: Pemecatan Bayern Jadi Pukulan Terberat Sepanjang Karier

Carlo Ancelotti, salah satu pelatih sepak bola paling berprestasi di dunia, baru-baru ini mengungkapkan bahwa pemecatannya dari Bayern Munich adalah yang paling kejam dan paling sulit dalam kariernya. Pernyataan ini muncul sebagai bagian dari refleksi Ancelotti terhadap perjalanan manajerialnya yang panjang dan sarat gelar.
Ancelotti dipecat dari posisinya sebagai pelatih kepala Bayern Munich hanya sebulan setelah musim 2017-2018 dimulai, menyusul kekalahan telak 3-0 dari Paris Saint-Germain di ajang Liga Champions. Meskipun sebelumnya ia telah memenangkan gelar Bundesliga di musim pertamanya (2016-2017) dan dua DFL Supercup, rentetan hasil buruk di awal musim kedua menjadi pemicu keputusannya. Kekalahan di Paris itu disebut sebagai "pukulan terakhir" yang menyebabkan tindakan cepat dari manajemen klub.
Dalam pernyataannya, Ancelotti membandingkan pemecatannya di Bayern dengan pemecatan-pemecatan sebelumnya di klub-klub besar lain seperti Chelsea pada tahun 2011 dan Real Madrid pada tahun 2015. Uniknya, meskipun ia memenangkan Premier League dan Piala FA bersama Chelsea, serta Liga Champions ke-10 Real Madrid ("La Decima"), pemecatan di Bayern terasa lebih brutal baginya. Ini juga merupakan pertama kalinya Ancelotti dipecat di tengah musim sepanjang 22 tahun kariernya saat itu.
Berbagai laporan dan pernyataan dari Ancelotti sendiri serta pihak klub menyoroti beberapa alasan di balik pemecatan tersebut. Ancelotti menyebutkan adanya "kesalahan" dalam pertandingan melawan PSG yang menyebabkan keseimbangan tim terganggu dan mereka mudah dihancurkan oleh serangan balik lawan. Selain itu, ia juga mengungkapkan adanya permintaan dari jajaran direksi untuk "menanamkan lebih banyak disiplin" di antara para pemain, bahkan dengan daftar lima poin yang harus dibacakan. Namun, Ancelotti merasa berhadapan dengan tim profesional kelas atas, bukan tim junior, sehingga ia memilih untuk menjauhkan diri dari tugas tersebut dengan cara yang unik di depan tim.
Di sisi lain, Presiden Bayern Munich saat itu, Uli Hoeness, mengatakan bahwa Ancelotti telah berselisih dengan para pemain kunci. Hoeness secara gamblang menyatakan bahwa "musuh di ranjang Anda adalah yang paling berbahaya," mengindikasikan bahwa perpecahan di ruang ganti menjadi faktor krusial. Ketidakpuasan di antara pemain senior seperti Franck Ribery dan Thomas Muller terhadap metode Ancelotti serta pilihan timnya juga dilaporkan menjadi masalah. Karl-Heinz Rummenigge, Ketua Dewan Eksekutif Bayern, menegaskan bahwa performa tim sejak awal musim tidak memenuhi ekspektasi dan pertandingan di Paris menunjukkan perlunya tindakan segera.
Setelah kepergian Ancelotti, Willy Sagnol mengambil alih sebagai manajer sementara sebelum Jupp Heynckes kembali untuk masa jabatan keempatnya, membawa klub meraih gelar liga lagi musim itu. Sementara itu, Ancelotti melanjutkan kariernya di Napoli dan Everton sebelum kembali ke Real Madrid dan memenangkan lebih banyak trofi Liga Champions. Namun, bayangan pemecatan dari Bayern Munich tetap menjadi pengalaman paling pahit dan kejam dalam rekam jejaknya yang gemilang.