Index Post Liga Italia Liga Inggris
Kembali

Max Verstappen Akui Gelar F1 Masih Jauh di Tengah Paceklik Kemenangan

Admin 27 Dec 2025

Max Verstappen Akui Gelar F1 Masih Jauh di Tengah Paceklik Kemenangan

Max Verstappen, juara dunia Formula 1 empat kali, menegaskan bahwa terlalu dini untuk membicarakan perburuan gelar juara dunia pada musim 2025, menyusul serangkaian hasil yang mengecewakan yang menempatkannya dalam "puasa kemenangan" relatif. Pernyataan ini muncul setelah musim 2025 yang bergejolak bagi Red Bull Racing, di mana dominasi mereka tergerus oleh kebangkitan McLaren dan Ferrari, serta masalah internal tim.

Musim 2025 menjadi akhir dari dominasi empat tahun Verstappen, yang secara mengejutkan disalip oleh Lando Norris dari McLaren-Mercedes di klasemen akhir kejuaraan pembalap dengan selisih hanya dua poin. Verstappen mengakhiri musim di posisi kedua dengan 421 poin, meraih delapan kemenangan Grand Prix dan 15 podium dari 24 balapan. Namun, angka ini jauh di bawah rekor kemenangannya di musim-musim sebelumnya, terutama setelah periode di mana ia sempat tertinggal 104 poin dari pemimpin klasemen.

Komentar Verstappen pada September 2025, saat ia duduk 69 poin di belakang pemimpin klasemen dengan tujuh balapan tersisa, menggarisbawahi tantangan yang dihadapinya. "Pada dasarnya segalanya harus berjalan sempurna dari sisi saya, dan kemudian sedikit keberuntungan dari pihak mereka juga, jadi ini masih sangat sulit," ujarnya, menekankan bahwa ia tidak menggantungkan diri pada "harapan" tetapi fokus pada balapan demi balapan. Analis F1 Bernie Collins bahkan menilai komentar Verstappen pada bulan Agustus, yang menyatakan keraguannya untuk memenangkan Grand Prix lagi pada tahun 2025, dapat "mendemorivasi" tim Red Bull.

Penurunan performa Red Bull pada 2025 sebagian besar disebabkan oleh masalah fundamental pada mobil RB21 mereka. Christian Horner, mantan kepala tim Red Bull, dan Helmut Marko, penasihat tim, sama-sama mengakui adanya defisit kecepatan murni, jendela setup yang tipis, dan manajemen ban yang buruk dibandingkan rival seperti McLaren. Red Bull technical director Pierre Wache mengakui bahwa tim mengalami "masalah korelasi" antara simulasi dan performa di trek, yang membuat mereka kehilangan arah dalam pengembangan. Perubahan regulasi FIA pada tahun 2024, termasuk penyederhanaan sayap depan dan desain underbody, juga disebut-sebut telah mengganggu keunggulan aerodinamis Red Bull dan memperlambat kendaraan mereka.

Di luar tantangan teknis, Red Bull juga menghadapi gejolak internal yang signifikan. Tim kehilangan beberapa personel kunci, termasuk kepala desainer legendaris Adrian Newey yang pindah ke Aston Martin, dan direktur olahraga Jonathan Wheatley yang bergabung dengan Kick Sauber. Christian Horner sendiri akhirnya digantikan oleh Laurent Mekies sebagai kepala tim setelah Grand Prix Inggris 2025 di tengah tuduhan kontroversi. Perpisahan dengan Honda sebagai pemasok unit daya utama pada akhir 2025, yang akan bermitra dengan Aston Martin mulai 2026, menambah kompleksitas transisi tim. Red Bull akan memproduksi unit daya mereka sendiri dengan kemitraan Ford mulai tahun 2026, menandai era baru yang penuh ketidakpastian.

Di sisi lain, rival-rival Red Bull menunjukkan kemajuan signifikan. McLaren, dengan Lando Norris dan Oscar Piastri, menjadi kekuatan dominan di paruh kedua musim, didukung oleh paket aerodinamika yang ditingkatkan dan manajemen ban yang kuat. Ferrari dan Mercedes juga menunjukkan tanda-tanda peningkatan, dengan beberapa analis memprediksi pertarungan gelar yang lebih ketat di masa depan melibatkan empat tim terdepan.

Meskipun menghadapi musim yang penuh tantangan, Verstappen sendiri menggambarkan 2025 sebagai "musim terbaik" dalam karirnya secara pribadi, mengingat ia berhasil meraih delapan kemenangan dan 15 podium dengan mobil yang sulit. Red Bull mengambil keputusan strategis untuk terus mengembangkan RB21 hingga akhir musim, meskipun ada perubahan regulasi besar untuk 2026, demi memahami akar masalah mobil dan berinvestasi untuk masa depan. Namun, dengan lanskap Formula 1 yang berubah drastis dan regulasi baru yang akan diperkenalkan pada tahun 2026, jalan Red Bull untuk kembali ke puncak akan menjadi lebih terjal, menuntut adaptasi cepat dan stabilitas di tengah restrukturisasi signifikan.