SEA Games 2025: Atlet Jakarta Borong 3 Emas Atletik, Bukti Pembinaan KONI DKI

Atlet-atlet cabang olahraga atletik DKI Jakarta mengukir kontribusi signifikan bagi kontingen Indonesia pada SEA Games 2025 di Thailand, menyumbangkan tiga medali emas, dua perak, dan satu perunggu dari total sembilan emas yang diraih tim atletik nasional. Pencapaian ini menegaskan peran vital pembinaan berkelanjutan yang didukung penuh oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) DKI Jakarta, sebuah model yang disebut sebagai kunci peningkatan prestasi olahraga.
Ketua Umum Pengurus Provinsi Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) DKI Jakarta, Mustara Musa, menyatakan bahwa keberhasilan atlet-atlet dari ibu kota tidak lepas dari sokongan KONI DKI Jakarta. "Alhamdulillah, prestasi atlet Jakarta ini merupakan hasil dari pembinaan yang didukung KONI DKI Jakarta, baik dari sisi pendanaan maupun pendampingan," ujar Mustara Musa dalam keterangan resmi di Jakarta pada Rabu, 24 Desember 2025. Dari 30 atlet yang memperkuat tim nasional atletik Indonesia, 10 di antaranya berasal dari DKI Jakarta, menunjukkan dominasi ibu kota dalam menyuplai talenta atletik.
Salah satu sorotan utama adalah Diva Renatta Jayadi, atlet lompat galah profesional kelahiran Jakarta, yang berhasil merebut medali emas dan memecahkan rekor nasional serta rekor SEA Games dengan lompatan setinggi 4,35 meter. Prestasinya mengakhiri penantian 22 tahun Indonesia di nomor tersebut, membuktikan efektivitas program pembinaan jangka panjang. Keberhasilan ini tidak berdiri sendiri. KONI DKI Jakarta diketahui telah menggelontorkan anggaran yang signifikan untuk pembinaan atlet. Pada tahun 2023, hibah untuk KONI DKI disepakati sebesar Rp 270 miliar, meskipun kebutuhan ideal disebut mencapai Rp 470 miliar untuk lebih dari 2.000 atlet. Angka ini mencerminkan besarnya investasi yang diperlukan untuk menopang program olahraga prestasi di daerah.
Dukungan KONI DKI Jakarta terhadap PASI tidak hanya terbatas pada aspek finansial, melainkan juga meliputi program pemusatan latihan (Training Camp) di dalam dan luar negeri, keikutsertaan dalam kejuaraan nasional dan internasional, uji coba (try out), serta layanan kesehatan dan penanganan cedera atlet. Mustara Musa, yang juga menjabat manajer tim nasional atletik Indonesia selama SEA Games 2025, menekankan bahwa sinergi antara cabang olahraga dan KONI adalah faktor krusial dalam menjaga kesinambungan prestasi. "Pembinaan prestasi membutuhkan program yang berkelanjutan dan dukungan anggaran yang jelas," tegasnya.
Kinerja atletik DKI Jakarta juga tercermin dalam ajang nasional, di mana mereka berhasil menjadi juara umum cabang atletik pada Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh-Sumatera Utara 2024 dengan raihan 11 emas, enam perak, dan tiga perunggu. Capaian ini menjadi indikator kuat kualitas pembinaan atletik di Jakarta sebelum melangkah ke panggung regional seperti SEA Games. Selain itu, KONI DKI Jakarta terus memperkuat kolaborasi strategis, seperti yang ditunjukkan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) pada 23 Desember 2025, untuk pengembangan dan pembinaan atlet berbasis riset dan keilmuan. Ketua Umum KONI Jakarta Hidayat Humaid mengapresiasi dukungan UNJ, melihatnya sebagai upaya memperkuat pembinaan atlet Jakarta.
Kendati Indonesia berhasil menempati peringkat kedua klasemen akhir SEA Games 2025 dengan total 91 emas, 111 perak, dan 131 perunggu—sebuah peningkatan signifikan dari edisi sebelumnya—tantangan pendanaan dan keberlanjutan program tetap menjadi perhatian. Ketua MPR RI Bambang Soesatyo sempat menyoroti minimnya dana pembinaan atlet dari pemerintah daerah, seperti yang dialami KONI DKI Jakarta menjelang PON 2024, di mana anggaran menurun drastis dibandingkan PON sebelumnya. Kondisi ini berpotensi memengaruhi kesejahteraan atlet dan keberlanjutan karier mereka, sehingga program seperti "Bapak Angkat" dan upaya mencari alternatif sumber pendanaan terus digagas oleh KONI DKI.
Prestasi atletik Jakarta di SEA Games 2025 bukan hanya sebatas perolehan medali, tetapi juga merupakan cerminan dari ekosistem pembinaan olahraga yang terstruktur. Ini menuntut semua pihak, mulai dari pemerintah daerah, KONI, PASI, hingga lembaga pendidikan, untuk terus menjaga komitmen terhadap pembinaan atlet secara profesional dan berorientasi jangka panjang demi menjaga dominasi Indonesia di kancah olahraga regional dan internasional.