Efek Ten Hag Dipecat? Leverkusen Menang Dramatis Meski Main 9 Orang

Bayer Leverkusen mengamankan kemenangan dramatis di Bundesliga, bermain dengan sembilan pemain, segera setelah kepergian pelatih kepala Erik ten Hag dari kursi kepelatihan mereka. Peristiwa ini terjadi pada musim 2025-26, menandai awal yang penuh gejolak namun segera direspons dengan kekuatan tim.
Periode Erik ten Hag di BayArena berlangsung singkat dan penuh kejutan. Ia ditunjuk sebagai pelatih kepala Bayer Leverkusen pada 1 Juli 2025, namun posisinya hanya bertahan hingga 1 September 2025, saat Kasper Hjulmand mengambil alih sebagai penggantinya pada 8 September. Perubahan kepemimpinan ini terjadi di tengah musim, sebuah skenario yang, berdasarkan analisis kinerja manajerial di liga-liga top Eropa, dapat memberikan dorongan motivasi awal yang dikenal sebagai "new manager bounce" meskipun dampaknya dalam jangka panjang seringkali bervariasi. Beberapa studi menunjukkan bahwa rata-rata, kinerja tim tidak selalu membaik setelah pergantian manajer, dan keberhasilan sangat bergantung pada keadaan yang tidak terduga. Namun, efek positif apa pun cenderung terbatas pada beberapa pertandingan pertama, ketika para pemain bersemangat untuk membuat kesan pada bos baru mereka.
Kemenangan dengan sembilan pemain adalah testimoni luar biasa terhadap ketahanan mental dan adaptasi taktis tim. Bermain dengan kekurangan dua pemain selama periode signifikan dalam pertandingan menuntut tingkat disiplin dan semangat juang yang ekstrem. Para ahli sepak bola sering menyoroti bahwa dalam situasi kartu merah, tim harus "berjuang dengan hati" dan mengambil pelajaran dari setiap pengalaman, baik atau buruk. Ini mencerminkan mentalitas "pemenang tidak pernah menyerah" yang sering dikutip dalam olahraga. Tekanan untuk tampil di bawah manajer baru dapat mengakibatkan kelelahan, baik mental maupun fisik, namun juga dapat memicu respons kolektif yang kuat. Kemenangan dalam kondisi sulit seperti ini dapat memperkuat ikatan tim dan menanamkan kepercayaan diri yang besar di masa-masa awal kepelatihan Hjulmand.
Kinerja Bayer Leverkusen di bawah pelatih sebelumnya, Xabi Alonso, telah membangun fondasi yang kokoh untuk ketahanan semacam ini. Di bawah Alonso, Leverkusen mengalami transformasi luar biasa, merebut gelar Bundesliga pertama mereka pada musim 2023-24 tanpa terkalahkan, dan mencapai rekor tak terkalahkan Eropa selama 51 pertandingan di semua kompetisi. Alonso menanamkan sistem taktis cerdas dan fleksibel yang memungkinkan pergerakan cair, disiplin pertahanan, dan serangan balik yang mematikan. Keberhasilan historis ini telah membentuk budaya kemenangan dan kecerdasan taktis di klub yang tampaknya bertahan melampaui perubahan manajerial individu. Pada musim 2025-26, Leverkusen masih mempertahankan posisinya di papan atas Bundesliga, berada di peringkat ketiga dengan 29 poin dari 15 pertandingan.
Implikasi jangka panjang dari kemenangan ini dan pergantian manajerial yang cepat masih harus dilihat. Meskipun "new manager bounce" dapat memberikan dorongan instan, tantangan transisi manajerial, termasuk gangguan rutinitas dan ketidakpastian seputar waktu bermain, dapat menimbulkan tekanan signifikan pada pemain. Namun, respons tim yang kuat setelah kepergian Ten Hag, terutama dalam kondisi yang sangat sulit, menunjukkan bahwa semangat dan kualitas tim inti Leverkusen mungkin lebih dalam daripada sekadar arahan dari satu individu manajer. Kemenangan ini bisa menjadi indikator bahwa pondasi kuat yang dibangun di era sebelumnya telah menumbuhkan kapasitas tim untuk beradaptasi dan berkembang, bahkan di tengah gejolak. Bagi Kasper Hjulmand, awal yang dramatis ini dapat menjadi katalis untuk membangun momentum dan menegaskan visinya di klub yang sudah terbiasa dengan standar kemenangan yang tinggi.