Virgil van Dijk: Blunder yang Kini Melekat pada Performanya

Bek tengah andalan Liverpool, Virgil van Dijk, yang pernah dijuluki sebagai salah satu bek terbaik dunia, kini mulai akrab dengan kesalahan fatal di Liga Inggris. Sejumlah blunder yang dilakukannya musim ini telah menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan penggemar dan pakar sepak bola mengenai penurunan performanya.
Dalam pertandingan terakhir melawan Sunderland pada 4 Desember 2025, Van Dijk melakukan kesalahan krusial. Ia kehilangan penguasaan bola, kemudian malah berdiri pasif dan membalikkan badan saat tendangan Chemsdine Talbi dari jarak 25 yard mengarah ke gawang. Bola kemudian berbelok arah setelah mengenai dirinya, membuat kiper Alisson tak berdaya dan berujung pada gol penyeimbang 1-1. Insiden ini memicu kritik pedas dari para analis, termasuk mantan kapten Inggris Steph Houghton dan Jamie Redknapp, yang menyoroti pengambilan keputusan yang salah dan hilangnya rasa percaya diri sang bek.
Serangkaian kesalahan Van Dijk tidak hanya terjadi di Liga Inggris. Sebelumnya, ia melakukan handball yang ceroboh dan berujung penalti dalam kekalahan telak Liverpool 4-1 dari PSV Eindhoven di Liga Champions. Handball mencolok tersebut bahkan membuat Jamie Carragher, mantan bek Liverpool, menyebut Van Dijk kini hanyalah "bek tengah normal". Statistik menunjukkan bahwa Van Dijk telah melakukan tiga kesalahan yang berujung penalti di semua kompetisi musim ini, terbanyak di antara pemain Liga Inggris lainnya. Ia juga bertanggung jawab atas penalti lain saat Liverpool kalah dari Brentford, dan turut berperan dalam gol-gol yang bersarang ke gawang Liverpool saat menghadapi Manchester City dan Manchester United.
Blunder-blunder ini menjadi indikasi bahwa "aura tak terkalahkan" yang melekat pada Van Dijk sejak kedatangannya senilai £75 juta dari Southampton pada Januari 2018, kini mulai memudar. Pada usia 34 tahun, Van Dijk, bersama dengan Mohamed Salah (33), yang keduanya menandatangani kontrak dua tahun baru pada musim panas, menunjukkan tanda-tanda penurunan performa yang jelas. Pundit legendaris Graeme Souness bahkan secara terbuka menyatakan bahwa penurunan Van Dijk telah dimulai, menunjuk pada "pengurangan marginal dalam kecepatan" yang membuatnya tak mampu menghentikan gol yang seharusnya bisa diantisipasi di masa jayanya.
Statistik juga mendukung klaim ini, dengan penurunan signifikan dalam jumlah pemulihan bola, tekel, dan intersepsi yang dilakukan Van Dijk. Musim ini, Liverpool hanya mencatat lima clean sheet dalam 22 pertandingan, menandakan kerapuhan di lini belakang. Pelatih kepala Arne Slot, yang baru memimpin tim setelah perombakan skuad senilai £450 juta, bahkan harus mendorong Van Dijk untuk bermain sebagai penyerang darurat di akhir pertandingan melawan Sunderland, sebuah detail yang menyoroti kurangnya ide tim, tidak hanya di lini pertahanan.
Van Dijk sendiri tidak membantah situasi sulit ini. Setelah kekalahan 3-0 dari Nottingham Forest, ia mengakui tim berada dalam "kekacauan" dan menyatakan bahwa semua pemain harus bertanggung jawab atas performa buruk, termasuk kebobolan gol-gol mudah. Beban sebagai kapten tim yang diemban sejak Juli 2023 juga menambah tekanan dan sorotan terhadap dirinya. Kini, publik menanti apakah Van Dijk mampu bangkit dari periode sulit ini dan kembali menemukan performa terbaiknya yang pernah menjadikannya bek paling dominan di Liga Inggris.