Index Post Liga Italia Liga Inggris
Kembali

Rabiot Ungkap Pola Pikir Milan Remehkan Tim Kasta Bawah

Admin 26 Dec 2025

Rabiot Ungkap Pola Pikir Milan Remehkan Tim Kasta Bawah

Pernyataan blak-blakan gelandang AC Milan Adrien Rabiot mengenai performa tim setelah hasil imbang 0-0 melawan Juventus pada 5 Oktober 2025 telah memicu perdebatan luas tentang konsistensi dan mentalitas klub di Serie A, meskipun kutipan langsung mengenai Milan meremehkan tim-tim kecil tidak ditemukan. Rabiot secara spesifik menyatakan kemarahannya karena "Rossoneri" kehilangan dua poin dan "seharusnya bisa berbuat lebih banyak" sebagai sebuah tim, menekankan perlunya peningkatan dalam memanfaatkan ruang dan penyelesaian akhir. Komentar ini muncul di tengah musim 2024/2025 yang fluktuatif bagi AC Milan, di mana mereka mengakhiri liga di posisi ke-8 dengan 63 poin dari 38 pertandingan, mencatatkan 18 kemenangan, 9 seri, dan 11 kekalahan. Statistik ini menyoroti kurangnya dominasi yang diharapkan dari tim sekelas Milan, yang mungkin mengindikasikan kesulitan menghadapi lawan dari berbagai level, bukan hanya tim-tim besar.

Secara historis, klub-klub besar Serie A sering kali ditantang oleh tim-tim yang secara peringkat lebih rendah, terutama ketika tekanan untuk mempertahankan performa tinggi secara konsisten menjadi faktor penentu gelar. Ketidakmampuan Milan untuk mengamankan kemenangan rutin, bahkan dalam pertandingan yang dianggap "wajib menang," telah menjadi titik fokus kritik dari para analis dan suporter. Pernyataan Rabiot, meskipun tidak secara langsung menunjuk pada peremehan, mencerminkan adanya frustrasi internal atas performa yang di bawah standar dan poin-poin yang terbuang.

Lebih lanjut, Rabiot telah menunjukkan kecenderungan untuk berbicara secara terus terang mengenai isu-isu yang dianggapnya penting, bahkan jika itu menempatkan klub atau liga dalam sorotan negatif. Pada 8 Oktober 2025, ia secara terbuka mengecam keputusan Serie A untuk menggelar pertandingan AC Milan melawan Como di Perth, Australia, pada Februari 2026, menyebutnya "benar-benar gila" dan "benar-benar tidak masuk akal" karena pertimbangan jadwal padat dan kesehatan pemain. Kritik tajam ini segera ditanggapi oleh CEO Lega Serie A, Luigi De Siervo, yang menegaskan bahwa pemain "seharusnya menghormati uang yang mereka hasilkan" dan hanya fokus "bermain sepak bola," sembari membela langkah tersebut sebagai bagian dari strategi promosi global liga. Insiden ini menunjukkan kerentanan hubungan antara pemain bintang, manajemen liga, dan kepentingan komersial.

Implikasi dari komentar Rabiot dan performa AC Milan yang inkonsisten selama musim 2024/2025 bersifat ganda. Pertama, ini dapat mempengaruhi moral tim dan strategi kepelatihan. Ketika seorang pemain kunci menyuarakan frustrasi, ini dapat menjadi cerminan sentimen yang lebih luas di ruang ganti. Pelatih kepala AC Milan, Sérgio Conceição, yang mengambil alih tim dari Paulo Fonseca pada akhir Desember 2024, menghadapi tantangan besar untuk memulihkan mentalitas juara dan memastikan setiap pertandingan didekati dengan intensitas yang sama. Kedua, performa yang kurang konsisten dapat berdampak pada aspirasi Milan di kancah domestik dan Eropa. Kegagalan untuk secara rutin mengamankan poin maksimal, terutama melawan lawan yang secara peringkat lebih rendah, secara langsung menghambat peluang mereka untuk memperebutkan Scudetto atau mengamankan posisi Liga Champions. Kritikan dari Rabiot, meskipun tidak spesifik menargetkan "tim kecil", menggarisbawahi kebutuhan mendesak bagi AC Milan untuk meninjau kembali pendekatan mereka terhadap setiap pertandingan dan mengedepankan mentalitas tanpa kompromi untuk mencapai stabilitas performa yang diharapkan dari klub papan atas.