Gaya Bertarung Islam Makhachev: Monoton atau Masterpiece?

Islam Makhachev, juara ganda Ultimate Fighting Championship (UFC), belakangan ini menjadi subjek perdebatan sengit di kalangan penggemar seni bela diri campuran: apakah gaya bertarungnya membosankan? Diskusi ini kembali memanas menyusul kemenangannya di UFC 322 pada 15 November 2025, di mana ia meraih gelar Juara Kelas Welter dan menyamai rekor kemenangan beruntun terpanjang di UFC.
Makhachev, yang lahir di Dagestan, Rusia, dikenal luas karena gaya bertarungnya yang didominasi oleh sambo dan gulat tingkat tinggi, sebuah fondasi yang sama dengan mentornya, Khabib Nurmagomedov. Statistik menunjukkan dominasinya yang luar biasa, dengan rata-rata lebih dari tiga takedown per pertarungan di UFC dan akurasi takedown di atas 60%. Selain itu, ia unggul dalam kontrol posisi di atas kanvas, menghabiskan lebih banyak waktu dalam posisi kontrol atas dibandingkan kebanyakan petarung di divisinya. Kemampuan striking-nya juga terus berkembang, terbukti dengan knockout kaki atas pada ronde pertama melawan Alexander Volkanovski di UFC 294 pada Oktober 2023. Makhachev memiliki rekor profesional 28 kemenangan dan hanya satu kekalahan, dengan 13 kemenangan melalui kuncian (submission) dan 5 kemenangan melalui knockout (KO/TKO), menunjukkan kemampuannya untuk mengakhiri pertarungan secara definitif. Akurasi striking signifikan Makhachev mencapai 59,5%, yang merupakan yang tertinggi di divisi kelas ringan.
Namun, beberapa penggemar, terutama yang disebut "penggemar kasual" MMA, menganggap gaya bertarung Makhachev kurang menghibur. Kritikan ini sering muncul ketika pertarungannya didominasi oleh kontrol gulat dan berakhir dengan keputusan juri, bukan finish yang spektakuler. Kemenangan terbarunya di UFC 322 melawan Jack Della Maddalena, di mana ia mencatatkan lebih dari 19 menit waktu kontrol dan memenangkan pertarungan melalui keputusan mutlak (unanimous decision), memicu gelombang kritik ini. Petarung lain, Ilia Topuria, bahkan secara blak-blakan menyebut Makhachev "hal paling membosankan dalam olahraga ini" setelah pertarungan tersebut. Para kritikus berpendapat bahwa minimnya pertukaran striking dan upaya submission yang tidak menghasilkan finish membuat pertarungan menjadi kurang dinamis.
Di sisi lain, banyak pakar dan penggemar setia dengan tegas membela Islam Makhachev. Mereka menekankan bahwa gaya bertarungnya adalah contoh dominasi strategis dan keterampilan tingkat tinggi. Michael Bisping, mantan juara UFC, serta komentator Jon Anik, berpendapat bahwa kritik "membosankan" datang dari penggemar yang tidak memahami kompleksitas teknis dan strategis seni bela diri campuran. Mereka menyoroti kemampuan Makhachev untuk sepenuhnya "mematikan" lawan dengan gulatnya, seperti yang terlihat saat ia menghadapi Jack Della Maddalena. Pelatih dan analis memuji IQ pertarungan Makhachev yang luar biasa, kesabarannya, dan kemampuannya untuk secara sistematis menguras energi fisik dan mental lawan.
Kemenangan beruntun Makhachev yang mencapai 16 kali, menyamai rekor Anderson Silva, serta posisinya sebagai petarung pound-for-pound (P4P) nomor 1 di UFC, adalah bukti nyata efektivitas gayanya. Selain itu, ia telah memecahkan rekor kemenangan beruntun terpanjang di divisi kelas ringan (14 kemenangan) dan rekor pertahanan gelar terbanyak (4 kali) di divisi tersebut. Pertarungannya juga tidak selalu "membosankan"; ia memiliki banyak finish yang mengesankan, termasuk kuncian atas Charles Oliveira untuk merebut gelar kelas ringan pada Oktober 2022, kemenangan D'Arce choke pada ronde kelima atas Dustin Poirier pada Juni 2024, dan knockout atas Alexander Volkanovski. Beberapa penggemar bahkan menunjuk pada potensi bias atau kebencian terhadap petarung asal Dagestan atau Muslim sebagai salah satu alasan di balik kritik yang tidak adil.
Secara keseluruhan, perdebatan mengenai apakah Islam Makhachev "membosankan" atau tidak mencerminkan perbedaan preferensi di antara penonton MMA. Bagi mereka yang menghargai keterampilan teknis, dominasi strategis, dan efektivitas mutlak, gaya Makhachev adalah sebuah mahakarya. Namun, bagi sebagian lain yang mendambakan pertarungan yang penuh aksi striking dan finish cepat, pendekatan kontrolnya mungkin terasa kurang memuaskan. Terlepas dari perdebatan tersebut, tidak dapat disangkal bahwa Islam Makhachev adalah salah satu petarung paling dominan dan berprestasi di UFC saat ini, telah mengukir namanya dalam sejarah olahraga ini sebagai juara dua divisi.