Xabi Alonso: Sang Arsitek Ulung

Xabi Alonso, sosok yang tidak asing lagi di kancah sepak bola Spanyol dan Eropa, kini kembali ke La Liga sebagai pelatih kepala Real Madrid, menegaskan statusnya sebagai bukan anak kemarin sore di dunia kepelatihan. Penunjukannya pada Juni 2025 menandai babak baru dalam kariernya, setelah sebelumnya mengukir sejarah cemerlang di Jerman.
Sebagai seorang pemain, Alonso memiliki karier yang sangat gemilang. Ia adalah bagian integral dari "generasi emas" Spanyol yang memenangkan Piala Dunia 2010 dan Kejuaraan Eropa pada 2008 dan 2012. Di level klub, Alonso pernah memperkuat klub-klub raksasa seperti Liverpool, Real Madrid, dan Bayern Munich. Selama lima musim bersama Real Madrid, ia memenangkan gelar La Liga dan satu trofi Liga Champions. Pengalaman bermain di bawah arahan pelatih-pelatih top seperti Rafael Benítez, José Mourinho, Pep Guardiola, dan Carlo Ancelotti telah memberinya bekal berharga dalam memahami seluk-beluk taktik dan manajemen tim.
Transisinya ke dunia kepelatihan dimulai dengan menangani tim U-14 Real Madrid, sebelum kemudian menjadi pelatih Real Sociedad B pada 2019, di mana ia berhasil membawa tim tersebut promosi ke Segunda División. Namun, namanya benar-benar melambung tinggi saat mengambil alih kemudi Bayer Leverkusen pada Oktober 2022. Alonso memimpin Leverkusen meraih musim yang luar biasa pada 2023-2024, mengamankan gelar ganda domestik yang belum pernah terjadi sebelumnya, yaitu Bundesliga dan DFB-Pokal, serta mencatat rekor tak terkalahkan dalam 51 pertandingan di semua kompetisi. Ia meninggalkan Leverkusen sebagai legenda klub setelah dua setengah musim yang penuh kesuksesan, dengan rasio kemenangan 65 persen dari 140 pertandingan kompetitif.
Filosofi kepelatihan Alonso menggabungkan kontrol dengan adaptasi, dengan penekanan pada disiplin posisi, penempatan ruang yang cerdas, dan sirkulasi bola, namun tanpa terpaku pada dogma penguasaan bola semata. Tim-timnya dikenal karena struktur yang cair, rotasi posisi, dan progresi vertikal. Ia juga dikenal pragmatis dan bersedia mengadaptasi timnya, tidak terikat pada satu gaya bermain tertentu. Formasi favoritnya adalah 3-4-2-1, yang melibatkan penggunaan wing-back secara asimetris untuk membingungkan lawan dan menciptakan peluang mencetak gol. Alonso percaya bahwa pemain perlu mengikuti visinya dan merasa berkembang di bawah bimbingannya, dengan penekanan pada intensitas baik saat menguasai maupun kehilangan bola.
Kini, sebagai pelatih kepala Real Madrid, Alonso menghadapi tantangan besar untuk mengisi posisi yang ditinggalkan oleh Carlo Ancelotti. Kepindahan ini dianggap sebagai langkah yang "hampir tidak terhindarkan" oleh banyak pihak, mengingat ikatan kuatnya dengan klub. Di bawah asuhannya, Real Madrid telah menunjukkan awal yang menjanjikan, termasuk kemenangan 2-1 dalam El Clasico pertama musim ini melawan Barcelona asuhan Hansi Flick, meskipun sempat menelan kekalahan telak dari Atletico Madrid. Florentino Perez, presiden Real Madrid, memandang Alonso sebagai penerus jangka panjang yang ideal, yang mewujudkan nilai-nilai klub.
Dengan rekam jejaknya yang mengesankan sebagai pemain dan kesuksesan cepat sebagai pelatih, Xabi Alonso telah membuktikan bahwa ia adalah figur yang berpengalaman dan cakap. Kehadirannya di bangku cadangan Real Madrid bukan hanya sekadar nostalgia, melainkan bukti nyata dari kapabilitas manajerial yang telah teruji dan siap membawa Los Blancos ke era kejayaan berikutnya.